DR. Eko Haryono, M.Si.: doktor Geomorfologi Karst pertama di Indonesia

Posted in Articles on August 25, 2008 by cavernicoles

Hari Jumat kemarin, 22 Agustus 2008 jam 8.30, saya diundang acara Promosi Doktor di Gedung Sekolah PAscasarjana UGM.

Acara promosi saat itu adalah ujian terbuka Disertasi Dr. Eko Haryono, M.Si. , yang mengambil topik penelitian cukup menarik dari sisi kawasan karst. Judul disertasi beliau adalah

” MODEL PERKEMBANGAN KARST BERDASARKAN MORFOMETRI JARINGAN LEMBAH DI KARANGBOLONG, GUNUNGSEWU, BLAMBANGAN DAN RENGEL”

Dari disertasi beliau, ditemukan dua hal penting dalam hal metode dan konsep/teori yaitu:

1. Secara metodologis, disertasi ini telah menghasilkan metode baru untuk mengkarakterisasi morfologi kawasan karst. Metode ini lebih fleksibel penerapannya dibandingkan dengan metode sebelumnya yang mendasarkan pada morfometri cekungan tertutup dan morfometri bukit, karena tidak semua kawasan karst memliki cekungan tertutup dan bukit karst.

2. Secara konseptual/teoritis disertasi ini telah menghasilkan model perkembangan karst berdasarkan morfometri jaringan lembah. Model ini belum dikemukakan oleh peneliti lain sebelumnya.

Semoga, dengan adanya doktor baru dalam pengetahuan kawasan karst, perhatian akan pentingnya kawasan karst bagi kelangsungan keseimbnagan ekosistem akan terus meningkat.

Pemanfaatan kawasan karst yang bersifat merusak dapat dikelola dengan baik dan disesuaikan dengan RTRW Nasional sesuai dengan PP 26 Tahun 2008.

Selamat buat Dr. Eko Haryono, M.Si…..

Cave Crustaceans of Java

Posted in Cave Critters on August 8, 2008 by cavernicoles

Cave Arachnids of Java

Posted in Cave Critters on August 8, 2008 by cavernicoles

Selamatkan Karst Grobogan dan Pati

Posted in Press on July 16, 2008 by cavernicoles

Rabu, 23 April 2008 | 11:57 WIB

Oleh Sunu widjanarko

Perbukitan batu gamping di sekitar perbatasan Kabupaten Grobogan dan Pati, Jawa Tengah, memiliki peran dan nilai yang sangat penting bagi ekosistem di kedua kabupaten tersebut. Peran dan nilai yang sebenarnya jauh lebih besar daripada anggapan bahwa nilai perbukitan itu hanya merupakan tumpukan batu gamping raksasa yang menunggu ditambang, dikeruk, diledakkan, dan dikirim ke pabrik semen atau pabrik-pabrik lainnya. Pengrusakan kawasan batu gamping ini akan memengaruhi ekosistem untuk daerah yang jauh lebih luas daripada perkiraan. Ujung- ujungnya, korban terakhirnya adalah umat manusia karena alam memiliki mekanisme pertahanan yang sempurna. Jika tekanan terhadap dirinya makin berat, maka dia akan menyeimbangkan dirinya dengan cara membuat bencana agar dapat mengurangi populasi manusia. Perbukitan batu gamping kawasan ini memiliki sifat-sifat kawasan karst.

Yaitu, terdapat bentukan bukit dan lembah yang khas akibat proses-proses pelarutan, terdapat goa-goa, aliran sungai bawah tanah, dan mata air. Mata air epikarst, menurut studi Linhua (1996), dikenal mempunyai kelebihan dalam pertama, kualitas air. Air yang keluar dari mata air epikarst sangat jernih karena sedimen yang ada sudah terperangkap dalam material isian atau rekahan. Kedua, debit yang stabil. Mata air yang keluar dari mintakat epikarst dapat mengalir 2-3 bulan setelah musim hujan, dengan debit relatif stabil dan ketiga, mudah untuk dikelola. Mata air epikarst umumnya muncul di kaki-kaki perbukitan sehingga dapat langsung ditampung tanpa harus memompa. Selain potensi sumber daya air, sebagian goa di kawasan karst Grobogan dan Pati merupakan tempat tinggal bagi komunitas kelelawar. Kelelawar sangat berperan dalam mengendalikan populasi serangga yang menjadi hama dan vektor penyebaran penyakit menular.

Menurut peneliti kelelawar Sigit Wiantoro, kelelawar yang memiliki rata-rata berat tubuh sekitar 17 gram dan mampu memakan serangga seberat seperempat dari berat tubuhnya setiap malam, tentunya berperan penting dalam mengendalikan populasi serangga sehingga tidak terjadi ledakan populasi, yang berarti menjadi hama. Kita kalkukasi saja, andai ada sekitar 1.000 ekor kelelawar, tentu dapat memakan serangga hingga 4,25 kilogram. Setiap malam! Padahal, di dalam goa yang lingkungannya terjaga bisa menampung kehidupan ribuan hingga jutaan ekor kelelawar. Seperti yang ada di beberapa goa di Tuban dan Sukabumi. Fungsi kelelawar sebagai pengendali hama mampu mencapai daerah yang sangat luas karena daya jelajah terbangnya yang tak kurang dari 20 kilometer.

Karena tingginya nilai kelelawar dalam ekosistem, sudah selayaknya habitat kelelawar ini mendapatkan perhatian yang sangat serius. Jika dilakukan penambangan batu gamping, maka volume lapisan tanah dan batuan yang menjadi tempat penyimpanan air tanah (akuifer) pun menjadi berkurang. Secara langsung, akan mengurangi jumlah dan masa tinggal (residence time) air di lapisan batuan. Akibatnya, air tidak akan tersedia lagi pada saat sangat dibutuhkan, yaitu pada musim kemarau. Sedangkan di musim hujan, air akan dengan cepat mengalir menuju alur sungai permukaan, yang akhirnya menjadi penyumbang banjir yang belakangan ini sangat merusak di wilayah ini. Selain itu, penambangan yang menggunakan peledakan dapat merusak struktur dan sistem penyimpanan air yang sudah didesain dan dibangun secara sempurna oleh Tuhan Yang Maha Pengatur. Akibat getarannya, di suatu tempat rekahan baru dapat terbentuk atau melebar, tetapi di tempat lain, kanal air bawah tanah yang semula dapat tertutup oleh runtuhan.

Akibatnya, air akan mengalir tak beraturan menuju tempat lain, bukan ke mata air yang selama ini sudah ada. Mengusir kelelawar Akibat lain dari getaran, suara, dan gas beracun hasil dari peledakan, akan dapat membunuh dan atau mengusir kelelawar penghuni goa. Padahal, selama ini kelelawar menjadi predator serangga yang berpotensi menjadi hama tanaman padi dan wabah penyakit. Jika pengendali populasi serangga sudah tidak ada, maka tinggal menunggu bencana beri-kutnya, yaitu hama padi atau wabah penyakit yang langsung mengenai manusia. Krisis pangan yang sudah melanda negeri kita beberapa tahun terakhir ini, serta penyakit demam berdarah dan chikungunya, akan makin berat disandang oleh warga dan pemerintah kabupaten ini. Kelelawar pemakan buah, yang selama ini telah membantu penyerbukan dan menyebarkan biji-bijian dan secara alami telah membantu penghutanan daerah karst yang tandus dan pelestarian tanaman, juga akan tersingkir atau musnah.

Saat ini ada sebuah peraturan nasional menyangkut pengelolaan dan pemanfaatan kawasan karst, yaitu Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1456 K/20/MEM/2000 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Karst Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Pasal 12 sampai 14 menyatakan bahwa kawasan karst yang berfungsi sebagai penyimpan air bawah tanah secara tetap (permanen) dalam bentuk akuifer, sungai bawah tanah, telaga, atau danau bawah tanah yang keberadaannya mencukupi fungsi umum hidrologi, maka di dalam kawasan tersebut tidak boleh ada kegiatan penambangan. Lalu, apa hubungan antara peraturan pemerintah pusat tersebut dengan kebijakan pemerintah daerah setempat? Penambangan batu gamping dalam skala besar biasanya dilakukan oleh pabrik semen. Saat ini, lokasi tersebut telah digadang-gadang untuk lokasi penambangan batu gamping oleh pabrik semen. Nah, melihat untung rugi dan risikonya, pemerintah daerah seharusnya dapat bijak dalam memilih.

Akankah menganggap potensi batu gamping hanya sebagai bahan tambang yang hanya menguntungkan dalam jangka waktu pendek dan dapat habis. Atau akan mengonservasi perbukitan itu serta meningkatkan fungsinya sebagai reservoir air dan habitat hewan pengendali lingkungan. Jika memilih yang terakhir, maka pilihan ini akan memenuhi asas pembangunan yang berkelanjutan dan wilayah yang kekeringan di musim kemarau tidak bertambah. Sebandingkah nilai investasi yang ditanam dibandingkan dengan dampak dan kerugian yang bakal dialami? Debit air yang akan terus turun membuat bencana baru, kekeringan. Stok beras akan terus berkurang akibat berkurangnya pasokan air dan hama. Penyakit menular akan makin sulit dikendalikan karena binatang vektornya tidak memiliki predator. Sunu Widjanarko Mantan Sekretaris Yayasan Acintyacunyata Bidang Konservasi Lingkungan Karst, Tinggal di Karanganyar, Jateng

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/04/23/11570973/selamatkan.karst.grobogan.dan.pati

Mat Usil tentang perluasan pabrik semen di Pati

Posted in Recycle Bin on July 16, 2008 by cavernicoles

POJOK Kompas,Senin, 14 Juli 2008:

Peneliti UGM dan UPN Yogyakarta berbeda pendapat dengan Undip soal perluasan pabrik semen di Pati

Mat usil bilang :

“Nah ketahuan mana penelitian pesanan , mana yang bukan!”

Si Gundul Trans 7: panen kelelawar ratusan ekor

Posted in Recycle Bin on July 5, 2008 by cavernicoles

Sore ini, Sabtu 5 Juli 2008 jam 4.15 sore, saya di SMS Pak Ko kalau di Trans 7 ada acara pembantaian kelelawar dan dibakar. Beliau mengusulkan untuk memprotes keras tindakan itu. Secara pribadi saya sepakat dengan itu karena bagaimanapun tindakan pembantaian keleawar untuk dikonsumsi akan mengganggu keseimbangan alam …..

Benar juga setelah aku pindah channel ke Trans 7 mengalahkan Kabaret-nya Metro TV, nampak di layar si Gundul lagi mbentangin jaring untuk nangkap kelelawar.

Dia bersama orang lokal yang kayaknya berlokasi di Kalimantan, Si Gundul memanen kelelawar yang sepertinya pemakan buah dari kelompok famili Pteropodidae, sepertinya dari jenis Rousettus sp.

Si Gundul dan teman lokalnya mendaptkan sekitar 200 ekor kelelawar yang kemudian di bagi-bagi … , kemudian kelelawar sebagian di masak, kayaknya dimasak OPOr …, Si gundul ikut makan dan kemudian setelah makan mereka pergi dari gua … setelah mampir dulu njala ikan di sungai …

Ada hal yang kurang pas di acara Si Gundul episode kali ini, yaitu

” Si gundul mungkin belum tahu kalau kelelawar khususnya pemakan buah sangat berperan penting dalam membantu kelestarian hutan khususnya dalam membantu menyebarkan biji. Beberapa penlitian menyebutkan kalau hampir 90% biji-biji Ara ( Ficus sp.) di hutan-hutan di sebarkan oleh kelelawar dan sisanya oleh burung, monyet dll.”

Silakan klik disini

” Nah, kalo semua orang setelah melihat acara Si Gundul terus ikut-ikutan nangkap kelelawar dengan jumlah tiap hari 200 ekor dan dalam satu minggu ada 7 hari berarti dalam satu minggu ditangkap 1400 ekor kelelawar , yang tentu saja kecepatan regenerasi kelelawar tidak akan secepat itu …, otomatis .. populasi kelelawar akan terus berkurang dan akhirnya punah dari dalam gua … laha kalo punah dari gua …. terus siapa yang mau bantuin nyebarin biji-biji .. di hutan atau bantuin mnyerbukin bunga .. durian ……”

” Acara ini kurang mendidik ditinjau dari pelestarian gua dan kehidupannya khususnya dalam menjaga kelestarian hutan … Terlepas Si Gundul membidik profesi-profesi yang unik namun, hal sperti ini tentu saja akan menjadi pembenaran terhadap pemanenan kelelawar di gua-gua yang banyak tersebar di Indonesia.”

mengapa perlu melindungi karst dan gua serta kehidupan yang ditopangnya?? Jawabnya ada disini

” STOP KILLING BATS .. and CONSERVE CAVES AND ITS LIFE …….”

 

Visit Indonesia 2008: Go Caving … see Indonesian karst

Posted in Articles on June 19, 2008 by cavernicoles

Tourist destination for Caving :

1. Cave Buniayu (Sukabumi, West Java)

2. Gua Petruk (Kebumen, Central Java)

See beautiful landscape of our karst :

1. Maros Karst

2. Waigeo Raja Ampat

3. Gombong Selatan

The diversity of Caves Life

Posted in Recycle Bin on June 11, 2008 by cavernicoles

Sebagai pelengkap blog ini, saya mencoba menghadirkan sesuatu yang lain dimana saya membuat blog baru yang lebih mengkhususkan pada pengetahuan tentang keanekaragaman fauna gua.

:) Keanekaragaman fauna gua merupakan satu hal yang perlu disebarkluaskan dimana keberadaannya saat ini semakin terancam oleh aktifitas penambangan, perubahan lingkungan dan segala bentuk aktifitas manusia.

:D Save Karst for future !!!

Untuk lebih jauh silakan kunjungi gambaran awal dari blog:

www.cavefauna.wordpress.com

The arachnofauna of Batanta Island, Raja Ampat Papua

Posted in The Faunas on June 10, 2008 by cavernicoles

Batanta Localities

Gambar 1-5. Lokasi Penelitian di Desa Wailebet dan Yenanas (Pulau Batanta),  1. Kondisi hutan di sekitar sungai Kaliyakut (Desa Wailebet), 2. Desa Wailebet dengan gunung yang berhutan lebat tepat di dekat desa, 3. Mulut Gua Umso di dekat Desa Yenanas, 4. Cerukan Gua Eleg di Desa Wailebet, 5. Kondisi Hutan di dekat Sungai Mandiko (kampung tua) (Fot. C. Rahmadi)

The diversity of arachnofauna in Batanta IslandGambar 6-10. Beberapa jenis Arachnida dari Pulau Batanta, 6. Heteropoda sp. (Sparassidae), banyak ditemukan hidup di dalam rumah, 7. Theraphosidae (Mygalopmorphae) dari Gua Umso di Desa Yenanas, 8. Opiliones yang ditemukan di Samsen dikoleksi di batang pohon, 9. Charinidae (Amblypygi) yang hidup di bawah batu gamping di Yenanas dan Wailebet, 10. Buthidae (Scorpiones) dari beberapa lokasi.

Caverwati: Cahyo Rahmadi Jr., a new daughter

Posted in Recycle Bin on May 30, 2008 by cavernicoles

Name : GANTARI NAFISA RAHMADA

Born : 29 May 2008, Time : 1300

at : RS PMI BOGOR

Body Weight : 3 kg

Body Lenght : 49 cm

Sex : female