Two new cave false-spider crabs from Indonesia (Brachyura: Hymenosomatidae)

In April 2008, the taxonomic paper about the false spider crabs had been published in ZOOTAXA (1739:21-40) wrote by Tohru Naruse, P.K.L. Ng and Daniel Guinot with title : “Two new genera and two new species of troglobitic false spider crabs (Crustacea: Decapoda: Brachyura: Hymenosomatidae) from Indonesia, with notes on Cancrocaeca Ng, 1991″

Two new genera and two new species of troglobitic false spider crabs
(Crustacea: Decapoda: Brachyura: Hymenosomatidae) from Indonesia,
with notes on Cancrocaeca Ng, 1991

The paper is described two new genera and two new species false spider crabs from Muna Island and Sangkulirang, East kalimantan.

The first genus is Sulaplax from caves in Muna Island with the species namely Sulaplax ensifer Naruse, Ng & Guinot 2008

Sulaplax ensifer

Sulaplax ensifer from caves in Muna Island, SE Sulawesi (Indonesia) (Ph. C. Rahmadi

Genus Sulaplax is derived from “Sula” the name of the island Sulawesi for and “plax” for the meaning of “plate” . The species of Sulaplax ensifer is derived from Latin “ensifer” meaning “carrier of a sword” that a morphology of blade-like finger of chela (Naruse, Ng and Guinot 2008).

Sulaplax ensifer is a species from Muna Island as a first time collected in 2001 during the join ecpedition with French Scientist. The specimens in 2001, are collected from small spring that Franck Brehier “the collector” collected specimens with snorkeling in the small cave passage. Brehier said that the specimens are collected on the roof of the small siphon. In 2007, during the joint expedition between Indonesian scientist (Dr. Daisy Wowor and me) and French (Franck Brehier), British (Prof. Dr. Geoff Boxshall), Spanish (Dr. Damia) and Australian (Dr. Stephan Eberhard), more specimens from different cave are collected during the fieldwork in Muna Island. It is showed that the diversity of cave fauna in Indonesia are still unexplored and still many undescribed. 

The second genus is Guaplax from cave in Sangkulirang Karst, Kalimantan Timur with the species namely Guaplax denticulata Naruse, Ng & Guinot 2008.

Guaplax denticulata from Sangkulirang, Kalimantan Timur

Guaplax denticulata , a false spider crab from cave in East Kalimantan. The specimens are collected during the expedition in Sangkulirang karst TNC-LIPI-MNHN (Ph. C. Rahmadi)

Guaplax is derived from Indonesian word “Gua” meaning cave and plax meaning a plate. The species name Guaplax denticulata is derived from Latin denticulatus meaning “bearing small teeth”.

Guaplax denticulata is collected from the small cave in Tabalar Ulu, East Kalimantan on the formation of Sangkulirang karst. The species is collected in the small pond on the cave river bank. The species is only known from single site in the cave as wel as single cave in East Kalimantan. 

Close species previously known from caves in maros namely Cancrocaeca xenomorpha Ng, 1991 

Cancrocaeca xenomorpha from caves in MAros Karst, South Sulawesi

Cancrocaeca xenomorpha from caves in MAros Karst, South Sulawesi

Cave spider, discovered from Java Island

A blind cave spider from Menoreh Karst, the first cave spider known to Java Island

A blind cave spider from Menoreh Karst, the first cave spider known to Java Island

No one knows how high the diversity of cave fauna in Java Island. During the exploration of cave fauna diversity for more than two years, the number of species is still far from reality.

Still many faunas are burried in the caves and remains undiscovered. With the team to explore Java caves, I have succeeded to add some additional caves species from Java even though most of them still remained undescribed and belived to be a new to sciences.

One of my team member collected enigmatic specimens of cave spider from caves in Menoreh Karst in  Central Java. During his research for his undergraduate thesis, Sidiq Harjanto, from Matalabiogama Faculty of Biology Gadjah Mada University, he collected several specimens that interesting for further studies. 

The specimens are collected first time in 2008 with only single specimen and I requested to get more specimens for future taxonomic works. In 2009, he collected two more specimens from the caves and I think that was a reasonable for cave species that known have a low number of individuals. Finally, he sent the specimens to me here in Japan for futher works. 

I have not enough knowledge about true spider, so I have to make a correspondence for further study. I contacted two arachnologist from Slovenia (Dr. M. Kuntner) and Netherlands (Dr. J. Miller) for their suggestion. I am pretty sure there will be something new and interesting from the specimens collected in Menoreh Karst. 

The specimens has a pale in color, brownish, and the eyes extremely reduced in size and only a small trace remained. I can not give the further morphological detail of the specimens since the groups is not known to me.

The species is collected from Menoreh karst that known to be the second highest karst in Java after Sukabumi, some caves are situated on the altituted more than 600 m above sea levels. Most of the karst area in Java are situated on the altitude less than 400 m above se levels. I can not give more explanation how the species is adapted in the caves and evolved and separated from other species.  

What I know, the cave life in Java still remained unknown but the threats to their existence are getting higher and higher. 

Who will care with this small animals and maybe who will care with the conservation of Java Karst, no body except us who know how difficult and unique the natural process in the cave and karst and how importance their existence to our life.

Karst for better life and for better future

Cahyo Rahmadi 
Special thanks to:
  1. Sidiq Harjanto and his friend in Matalabiogama who give the valuable contribution to the knowledge of Cave fauna of Java.
  2. Sigit Wiantoro who gave the good partnership during the exploration, we will do it again for next 3 years bro!! 
  3. All colleagues who contributed to the study of Cave Fauna of Java.
  4. Nagao NEF (JAPAN) and Rufford Foundation (UK) for kindly give financial support for the last two years exploration.

Dua Kepiting Jenis baru ditemukan dari gua di Waigeo, Raja Ampat Papua

Di sini lah mereka hidup ....

Di sini lah mereka hidup ....

Kembali, Kepulauan Raja Ampat menjadi surga bagi temua-temuan jenis baru tidak hanya dari hewan-hewan di laut tapi juga hewan-hewan yang menghuni di kegelapan gua yang ada di Pulau Waigeo.

Adalah dua jenis kepiting yang tertangkap saat ekspedisi Widya Nusantara (e-Win LIPI 2007) di Pulau Waigeo, dari sebuah gua yang ada di tepi laut di salah satu desa di Waigeo.

Jenis baru tersebut dipublikasikan dalam jurnal taksonomi ZOOTAXA 2025: 21-31 (2009) yang ditulis oleh ketua tim Museum Zoology Bogor, Dr. Daisy Wowor bersama koleganya dari Raffless Museum Singapura, Prof. Dr. P.K.L. Ng.

kedua jenis tersebut ditemukan hidup bersama dalam satu gua meskipun dengan habitat yang agak berbeda. Kedua jenis ini saya koleksi bersama partner saya Sigit Wiantoro yang bersama-sama mengeksplorasi gua-gua di Waigeo pada tahun 2007.

Kepiting ini masuk dalam famili Sesarmiidae, dan anggota genus Karstarma Davie & Ng, 2007. 

Jenis pertama adalah :

Karstarma ardea Wowor & Ng, 2009,

Jenis ini merupakan jenis yang berwarna orange dengan kaki yang sangat panjang dan hidup di celah batu di stalagmit di dalam gua. Gerakan mereka sangat cepat dan menyelam dalam air dengan sangat cepat pula. 

Karstarma ardea from cave in Waigeo

Karstarma ardea from cave in Waigeo

Jenis kedua adalah:

Karstarma waigeo Wowor & Ng, 2009

Jenis ini berukuran lebih kecil dibadingkan jenis sebelumnya dan lebih banyak ditemukan hidup di daerah gua yang bersubstrat lumpur.

Karstarma waigeo from cave of Waigeo Island

Karstarma waigeo from cave of Waigeo Island

Indonesia semakin aneh: polemik Karst Sukolilo berkepanjangan

Baru-baru ini ada berita tentang pembubaran acara diskusi di Semarang mengenai rencana penambangan dan pendirian pabrik semen di SUkolilo Pati.

Diskusi yang dihadiri oleh beberapa orang ini dibubarkan polisi dengan alasan tidak ada ijin menyelenggarakan diskusi.

Semakin, aneh polemik Karst SUkolilo ini. Polisi datang ketempat acara diskusi dan membubarkan acara hanya karena tidak ada IJIN.

Kejadian ini mengingatkan kita pada masa-masa 65-an dan Orde Baru dimana sebuah ajang kumpul-kumpul apalagi diskusi harus selalu dengan IJIN APARAT.

Seandainya diskusi itu dalam ranah akademis dan diluar muatan politis saya kira-sah-sah saja. 

Apa masyarakat Indonesia harus dibelenggu lagi kebebasan berpikir, berpendapat, berkumpul, berdiskusi dan segala macamnya kalau semua kegiatan itu tidak SESUAI dengan ARAHAN dan KEBIJAKAN PENGUASA….,

Konon, pembubaran itu dilakukan atas PERINTAH KAPOLDA dan GUBERNUH JAWA TENGAH dan sikap ini menunjukkan ketidakmauan PEMERINTAH untuk terbuka dengan sebuah PERBEDAAN.

Cara-cara lama masih begitu jelas dilakukan hanya untuk MELANGGENGKAN KEKUASAAN PENGUASA yang nota BENE sebenarnya di PILIH UNTUK MELAYANI RAKYAT…

apalagi slogan POLISI yang MELINDUNGI dan MELAYANI jelas-jelas hanya sekedar slogan namun lebih banyak pada MELINDUNGI DAN MENGAYOMI PENGUASA…

NEgara semakin aneh dan semakin jauh dari apa arti MELINDUNGI DAN MELAYANI RAKYAT ….

memang aneh ……,

Berita selengkapnya: 

http://korantempo. com/korantempo/ koran/2009/ 01/30/Berita_ Utama-Jateng/ krn.20090130. 155241.id. html

Relaxing your mind in caves

Some people believed that cave is one of the most unfriendly place on earth because of the darkness, humid, not easy to reach and some people believe that ghost is live in there.

A wild animals such as tiger, venomous snake, sun bear, wild dog etc are believed to live in caves. So, many people are unintend to go to cave to refresh their mind after 24 hours working and 7 days trapped in trafic jam, 12 months drowning by deadlines and nearly one year to see the uncertainty.

Some people that have  an adventure blood running on their body, cave is not a weird place but for people that have no experience to live with the addrenaline, caves are still mystery and frightening to visit.

For people who has no experience enjoying addrenalin maybe you can try to challenge your body and mind with refreshing all the mind with cave adventuring. Read more »

Belajar dari Polemik Pabrik Semen Sukolilo

Bentang alam Karst Sukolilo di Desa Kemaduh Batur sekitar Gua Urang

Bentang alam Karst Sukolilo di Desa Kemaduh Batur sekitar Gua Urang

Baru-baru ini dikabarkan ada beberapa LSM yang akan men-PTUN-kan Bupati Pati sehubungan dengan poemberian ijin pendirian pabrik dan penambangan gamping di karst SUkolilo.

Beberapa LSM tersebut menyoroti terhadap kejanggalan dasar hukum yang dipakai untuk pemberian ijin penambangan tersebut. Seperti yang di beritakan koran tempo beberap LSM yang rencana akan dimotori WALHI akan menggugat Bupati Pati yang dianggap menabrak aturan hukum yang ada.

Adanya langkah hukum yang diambil untuk mensikapi polemik Karst Sukolilo ini semakin menambah daftar panjang ketidakpuasan beberapa pihak terhadap rencana penambangan dan sekaligus proses amdal yang sudah berjalan.

Kalangan akademisi (meskipun pelaku AMDAL juga Akademis) melihat banyak kelemahan yang dipertontonkan oleh tim berkenaan dengan AMDAL.

Dari sisi hukum dan sisi ilmiah dianggap rencana penambangan gamping di SUkolilo cacat dan diperlukan peninjauan kembali terhadap proses amdal meskipun secara jelas tim AMDAL memberi lampu hijau untuk penambangan dan pendirian pabrik dengan beberapa “syarat”. Read more »

Ironi sebuah Amdal di kawasan karst

limestone mining

Aktivitas penambangan di kawasan Bedoyo Gunung Sewu yang jelas tidak dilakukan dengan Amdal.

Kalau mencermati apa yang berkembang di proses Amdal di Sukolilo mungkin ada orang yang hanya bisa mengelus dada, ada yang geleng-geleng ada yang mengangguk-angguk tanda setuju atau senang karena akan ada banyak lapangan pekerjaan di sana. Semua orang mempunyai sikap dan argumen sendiri dalam memandang pro-kontra pendirian pabrik semen di Sukolilo.

Begitu pula pandangan salah satu anggota Sedulur Sikep, Mas Gunritno. Saya ingat betul komentar Mas Gunritno dan pandangan dia tentang hakikat kekayaan materi. Masa Gun pernah bilang kalau orang kaya adalah orang yang tidak perlu beli air buat apa saja baik buat mengairi sawah, mandi, mencuci baju, makan minum, memasak atau bahkan mandiin kerbau atau sapi. Ada benarnya juga, ketika kita begitu banyak disediakan air oleh alam dan kita tidak pernah mengeluarkan sepeserpun untuk mendapatkan air di situlah nikmat dan merasa bahwa kita kaya karena semua ada di alam secara gratis. Sebaliknya yang dikota, harus antri supaya bisa dapat air bersih terkadang buat makan minum mandi aja sudah repot apalagi mikir buat mandiiin sapi. Read more »

Karst dan konflik pemanfaatan

The beatiful of stone forest

Beberapa bulan ini lagi marak perdebatan antara yang pro dan kontra tentang rencana penambangan gamping di kawasan Karst Sukolilo. Banyak pihak yang menkhawatirkan terganggunya keseimbangan ekosistem seperti penurunan kuantitas dan kualitas air dan sekaligus gangguan terhadap lingkungan akibat aktivitas penambangan. Sementara pihak yang pro beranggapan kalau rencana pembangunan pabrik semen akan mendongkrak angka ketersediaan semen di pasaran dalam negeri yang diperkirakan mendekati defisit. Selain itu, pembangunan pabrik juga akan membuka ribuan lapangan pekerjaan baik langsung maupun tidak langsung yang otomatis akan mendongkrak laju perkembangan ekonomi di masyarakat Pati khususnya SUkolilo. Selain itu, Pendapatan Asli daerah Kabupaten Pati juga akn merangkak naik baik dari pabrik semen maupun sektor lain yang mengikutinya. Read more »

Komentar atas artikel “Karst bukan bahan baku semen”

Entrance Gua Srunggo, sumber air masyarakat Tuban

Ada satu artikel yang buat saya menarik untuk dikritisi dalam salah satu blog yang ditulis oleh EFFNU SUBIYANTO seorang MAHASISWA MAGISTER MANAGEMEN UGM dan PESERTA ISKF I di Yogyakarta, dan tulisannya juga terbit dalam majalah GAPURA pada tanggal 2 September 2008.

Artikel ini sangat perlu dikritisi agar ada “counter opinion” terhadap beberapa pernyataan dalam artikel tersebut. Read more »

Gua: apa sih menariknya buat biolog??

Cheliferidae, found in Gua PetrukTulisan ini sebenarnya adalah tanggapan terhadap pertanyaan apa sih menariknya gua bagi biologiwan. PErtanyaan yang muncul di milist INDOCAVER yang dilontarkan oleh Asmi. Read more »